
Saya salah satu guru bahasa Indonesia di SMPK Adisucipto Penfui, Kupang. Kalau ditanya soal kedekatan dengan murid-murid, saya rasa bukan hal yang baru lagi di sekolah ini. Di sini, kami para guru sudah biasa dianggap bukan cuma sebagai pengajar yang berdiri di depan kelas, pegang spidol, dan kasih tugas. Lebih dari itu, kami ini sudah seperti keluarga besar. Murid-murid lihat kami bukan hanya sebagai “Pak Guru” atau “Ibu Guru”, tapi juga sebagai teman makan, teman cerita, bahkan orangtua kedua di sekolah.
Pagi-pagi, sebelum bel masuk, biasanya ada saja murid yang datang menghampiri di kantor atau di teras kelas. Kadang cuma bilang, “Bu, beta belum makan pagi.” Di situ, bukan cuma soal makan, tapi obrolan ringan soal rumah, soal pelajaran yang bikin pusing, atau soal teman yang bikin kesal. Mereka bercerita tanpa takut, karena mereka tahu kami ini bukan orang yang cuma mau menghakimi. Kami dengar, kami tanggapi dengan santai, kadang sambil ketawa lepas.
Saya sendiri sering alami, ada murid yang tiba-tiba datang dengan muka murung. Dia duduk di samping, diam dulu. Saya juga tidak langsung tanya macam-macam. Saya biarkan dia tenang, baru pelan-pelan dia buka cerita. Ada yang curhat soal orangtua yang bertengkar di rumah, ada yang soal ekonomi keluarga yang susah, sampai soal perasaan suka sama teman sekelas. Di situ, saya sadar, peran kami bukan cuma mengajar bahasa Indonesia, tapi juga jadi pendengar yang baik. Kadang kami juga kasih nasihat, tapi lebih banyak kami dengar dan kuatkan saja. Karena bagi mereka, didengar saja itu sudah melegakan.
Yang paling saya rasa, kedekatan ini bikin kami jadi semacam orangtua di sekolah. Banyak murid di sini yang orangtuanya sibuk kerja, ada yang jauh di luar kota, ada juga yang sudah tidak lengkap. Jadi ketika mereka butuh sosok yang bisa diandalkan, kami ada di situ. Bukan untuk menggantikan orangtua kandung, tapi setidaknya jadi tempat berlindung sementara. Kalau ada murid sakit, kami yang urus, antar ke UKS, telepon orangtuanya. Kalau ada yang nangis karena masalah keluarga, kami yang peluk dan bilang, “Beta ada, sayang. Jangan takut, kita hadapi sama-sama.”
Tapi tentu, kedekatan ini bukan berarti kami hilang wibawa. Justru karena dekat, kami bisa lebih tegas kalau ada murid yang salah. Mereka tidak marah kalau ditegur, karena mereka tahu kami menegur karena sayang. Misalnya, kalau ada yang bolos atau tidak kerjakan tugas, kami panggil, omong baik-baik. Kadang mereka malah minta maaf dulu sebelum kami marah. Itu karena hubungan kami sudah seperti orangtua dan anak sendiri.
Di SMPK Adisucipto ini, suasana kekeluargaan memang kental sekali. Kami para guru juga saling mendukung, sehingga kami bisa hadir penuh untuk murid-murid. Kami tidak hanya mengajar di dalam kelas, tapi juga di kantin, di halaman, di tangga sekolah, di mana saja. Di situlah pendidikan karakter yang sesungguhnya terjadi. Bukan cuma lewat pelajaran, tapi lewat keteladanan dan kehadiran.
Saya bersyukur bisa jadi bagian dari sekolah ini. Melihat murid-murid tumbuh bukan hanya pintar secara akademik, tapi juga punya hati yang hangat, itu kepuasan tersendiri. Kami memang guru, tapi kami juga teman, juga orangtua. Dan bagi saya, itulah yang membuat profesi ini jadi luar biasa. Bukan karena gaji atau jabatan, tapi karena kita bisa jadi tempat pulang bagi anak-anak yang sedang mencari kasih sayang di sekolah.
Kupang ini kota kecil, tapi hati kami besar untuk anak-anak. Di SMPK Adisucipto Penfui, kami belajar bahwa mendidik itu bukan cuma soal angka dan nilai, tapi soal sentuhan hati. Dan itu yang kami lakukan setiap hari, dengan cara Kupang: santai, jujur, dan penuh kasih.
By. Marcelina Sofia Adang, S.Pd.,Gr


