
Ketika Kesetaraan Dimulai dari Seorang Anak
Apa yang akan terjadi jika sejak kecil seorang anak perempuan diberitahu bahwa mimpinya terlalu tinggi? Bagaimana jika ia ingin menjadi ilmuwan, dokter, pemimpin, penulis, atlet, atau seseorang yang berpengaruh, tetapi justru mendengar, “Kamu kan perempuan”? Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi dari sanalah saya mulai memahami mengapa kesetaraan gender penting.
Apa yang Sebenarnya Dimaksud dengan Feminisme?
Bagi saya, feminisme bukan tentang perempuan yang ingin berada di atas laki-laki. Feminisme adalah gagasan yang memperjuangkan agar perempuan dan laki-laki memiliki hak, kesempatan, penghargaan, dan perlakuan yang adil. Karena itu, feminisme juga berarti menolak diskriminasi yang membuat seseorang dipandang lebih rendah hanya karena gendernya Saya juga percaya bahwa feminisme bukan pembicaraan yang hanya cocok untuk orang dewasa. Nilai kesetaraan dapat mulai dipelajari sejak anak-anak, bahkan dari hal-hal sederhana yang kita temui setiap hari: siapa yang boleh berpendapat, siapa yang diberi kesempatan mencoba, bagaimana pekerjaan rumah dibagi, dan bagaimana kita memperlakukan teman yang berbeda dari kita
Kesetaraan Dimulai dari Rumah
Seorang anak mengenal dunia pertama kali melalui keluarga. Ketika anak perempuan dan laki-laki diberikan kesempatan yang sama untuk belajar, bermain, berpendapat, mencoba sesuatu yang baru, dan mengejar cita-cita, sebenarnya keluarga sedang mengajarkan satu hal penting: kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya. Anak perempuan boleh menyukai sepak bola, teknologi, sains, atau kegiatan kepemimpinan. Anak laki-laki juga boleh belajar memasak, melakukan pekerjaan rumah, menyukai seni, atau menunjukkan perasaannya tanpa harus merasa dirinya kurang laki-laki. Pekerjaan rumah pun seharusnya tidak otomatis dianggap sebagai tanggung jawab perempuan. Memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan menjaga lingkungan adalah keterampilan hidup yang dapat dipelajari siapa saja. Hal-hal tersebut memang terlihat kecil. Namun, justru dari hal kecil itulah pola pikir seseorang terbentuk. Jika sejak kecil kita terbiasa melihat laki-laki dan perempuan sebagai pribadi yang sama-sama berharga, kita akan lebih mudah membawa nilai tersebut ketika tumbuh menjadi remaja dan dewasa.
Ketika Feminisme Masuk ke Dunia SMP
Sebagai seorang siswi SMP, saya melihat sekolah sebagai salah satu tempat penting untuk belajar tentang kesetaraan. Di sekolah, siswa perempuan maupun laki-laki seharusnya memiliki kesempatan untuk menjadi ketua kelas, anggota OSIS, ketua kelompok, peserta lomba, atlet, pembicara, peneliti, maupun orang yang menyampaikan pendapat. Seorang siswi tidak seharusnya dianggap tidak cocok menjadi pemimpin hanya karena ia perempuan. Begitu pula seorang siswa laki-laki tidak seharusnya ditertawakan ketika ia menyukai sastra, seni, memasak, atau kegiatan lain yang sering dianggap “bukan untuk laki-laki”. Kemampuan tidak memiliki jenis kelamin. Menurut saya, seseorang layak dipercaya menjadi pemimpin bukan karena ia laki-laki atau perempuan, melainkan karena ia mampu bertanggung jawab, berpikir, bekerja sama, mendengarkan orang lain, dan memperlakukan orang di sekitarnya dengan baik.
Dari SMP Menuju SMA dan Universitas
Perjalanan kesetaraan tidak berhenti di sekolah. Ketika seorang anak tumbuh menjadi remaja, kemudian melanjutkan pendidikan ke SMA dan perguruan tinggi, kesempatan untuk berkembang seharusnya semakin luas. Perempuan berhak mempelajari sains, teknologi, kedokteran, hukum, ekonomi, politik, sastra, seni, pendidikan, teknik, dan berbagai bidang lainnya. Laki-laki juga berhak memilih bidang yang sesuai dengan minat dan kemampuannya tanpa dibatasi stereotip gender. Bayangkan seorang anak perempuan yang memiliki kemampuan luar biasa dalam ilmu pengetahuan, tetapi tidak memperoleh kesempatan pendidikan yang layak hanya karena ia perempuan. Yang hilang bukan hanya kesempatan anak tersebut. Masyarakat juga dapat kehilangan seorang ilmuwan, dokter, peneliti, guru, atau penemu yang sebenarnya mampu memberikan manfaat bagi banyak orang.
Emma Watson: Suara yang Menginspirasi Saya
Dalam memahami isu kesetaraan gender, ada seorang tokoh yang menginspirasi saya, yaitu Emma Watson. Bagi banyak orang, ia dikenal sebagai seorang aktris. Bagi saya, ia juga menarik karena menggunakan ruang publik yang dimilikinya untuk berbicara tentang kesetaraan gender. Dalam artikel yang menjadi dasar tulisan ini, Emma Watson disebut diangkat sebagai UN Women Goodwill Ambassador pada 2014 dan kemudian ikut meluncurkan kampanye HeForShe, yang mengajak laki-laki dan anak laki-laki untuk terlibat dalam upaya kesetaraan gender. Ia juga mendirikan Our Shared Shelf, sebuah klub buku feminis di Goodreads yang mendorong kegiatan membaca dan berdiskusi tentang berbagai tulisan mengenai kesetaraan. Hal yang paling saya pelajari dari sosok tersebut bukan sekadar siapa dirinya, tetapi bagaimana sebuah gagasan dapat disampaikan melalui pendidikan, membaca, menulis, berdiskusi, dan berbicara. Perubahan tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang keras. Kadang-kadang, perubahan justru tumbuh dari percakapan yang membuat seseorang mulai berpikir.
Feminisme Bukan Kebencian terhadap Laki-Laki
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa feminisme berarti membenci laki-laki. Menurut saya, kesetaraan tidak membutuhkan kebencian. Perempuan tidak perlu merendahkan laki-laki untuk dihargai, dan laki-laki tidak perlu kehilangan haknya agar perempuan mendapatkan hak yang sama. Laki-laki justru dapat menjadi bagian dari perubahan dengan menghormati perempuan, menolak perundungan, tidak meremehkan kemampuan teman perempuan, dan ikut menciptakan lingkungan yang aman serta adil. Kesetaraan bukan pertandingan untuk menentukan siapa yang lebih tinggi. Kesetaraan adalah usaha agar tidak ada seseorang yang dibuat lebih rendah hanya karena gendernya.
Mengapa Kesetaraan Penting bagi Kita?
Menurut saya, ketidakadilan sering kali tidak dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat muncul dari kalimat yang dianggap bercanda atau biasa saja: “Perempuan tidak cocok memimpin”, “Laki-laki tidak boleh menangis”, atau “Perempuan tidak perlu sekolah terlalu tinggi”. Jika terus diulang, kalimat seperti itu dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri dan menentukan apa yang ia anggap mungkin atau tidak mungkin bagi dirinya. Karena itu, pendidikan tentang kesetaraan penting dimulai sejak dini. Anak perlu belajar bahwa mereka boleh memiliki cita-cita. Remaja perlu belajar menyampaikan pendapat dengan bertanggung jawab. Ketika melanjutkan pendidikan, seseorang perlu memahami bahwa pilihan belajar dan pengembangan diri tidak seharusnya dipersempit oleh stereotip gender.
Apa yang Dapat Kita Lakukan sebagai Pelajar?
Kita tidak harus menunggu menjadi orang dewasa untuk melakukan sesuatu. Sebagai pelajar, kita dapat memulainya dari lingkungan yang paling dekat dengan kita.
• Menghargai pendapat teman perempuan maupun laki-laki.
• Tidak mengejek seseorang berdasarkan gender.
• Memberikan kesempatan yang sama dalam kerja kelompok dan kegiatan sekolah.
• Tidak mengatakan bahwa pelajaran atau cita-cita tertentu hanya cocok untuk gender tertentu.
• Mendukung teman yang memiliki cita-cita positif.
• Menolak perundungan dan perlakuan yang merendahkan.
• Membagi tugas secara adil.
• Membaca dan belajar agar memiliki pemahaman yang lebih luas.
• Berani menyampaikan keberatan ketika melihat ketidakadilan dengan cara yang aman dan bertanggung jawab.
Perubahan Besar Dapat Dimulai dari Hal yang Dekat
Perubahan besar tidak selalu dimulai dari panggung besar. Kadang-kadang perubahan dimulai dari satu kelas, satu keluarga, satu percakapan, bahkan dari satu anak yang berani bertanya, “Mengapa saya harus dibatasi hanya karena saya perempuan?” Pertanyaan sederhana dapat membuka ruang untuk berpikir lebih luas
Dari Seorang Pelajar untuk Masa Depan
Saya adalah seorang pelajar SMP. Saya belum menjadi mahasiswa dan belum menjadi seorang profesional. Saya masih berada dalam tahap belajar dan membentuk cara pandang terhadap dunia. Namun, justru pada usia inilah saya merasa penting untuk mulai memahami kesetaraan. Saya ingin tumbuh menjadi seseorang yang tidak hanya memiliki pendidikan tinggi, tetapi juga memiliki kesadaran sosial. Saya ingin perempuan dapat memiliki cita-cita tanpa merasa bahwa mimpinya terlalu besar. Saya ingin laki-laki dapat menjadi dirinya sendiri tanpa terperangkap dalam stereotip. Saya ingin sekolah menjadi tempat di mana siswa dinilai berdasarkan kemampuan, usaha, tanggung jawab, dan karakter mereka. Saya mungkin belum bisa mengubah seluruh dunia. Namun, saya bisa mulai dari lingkungan saya. Saya bisa belajar. Saya bisa membaca. Saya bisa berpikir. Saya bisa menulis. Saya bisa menghargai orang lain. Dan saya bisa menggunakan suara saya dengan bertanggung jawab.
Kesetaraan yang Dimulai Hari Ini
Feminisme, sebagaimana saya memahaminya, bukan tentang menciptakan dunia di mana perempuan berada di atas laki-laki. Feminisme adalah tentang menciptakan ruang yang lebih adil, sehingga gender tidak menjadi alasan seseorang kehilangan kesempatan untuk belajar, berkembang, bermimpi, dan dihargai. Kesetaraan dapat dimulai dari rumah, tumbuh di sekolah, berkembang ketika kita melanjutkan pendidikan, lalu diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia dapat dimulai dari seorang anak yang belajar bahwa dirinya berharga, dari seorang siswi SMP yang berani memiliki cita-cita, dari seorang siswa yang berani menghargai pilihan temannya, atau dari seorang penulis muda yang memilih menggunakan kata-katanya untuk menyuarakan sesuatu yang diyakininya secara bertanggung jawab. Saya mungkin masih seorang siswi SMP. Tetapi saya percaya bahwa seseorang tidak harus menunggu dewasa untuk mulai membawa perubahan. Dunia yang lebih adil tidak lahir dalam satu hari. Ia dibangun dari kebiasaan kecil: menghargai, mendengarkan, memberi kesempatan, dan berani menolak perlakuan yang tidak adil.
“Kesetaraan bukan tentang menjatuhkan siapa pun,
—Grace Liu
tetapi membuka pintu agar setiap orang, tanpa memandang jenis kelamin,
bebas bermimpi dan berprestasi.”
Penulis: Grace Liu • Siswi SMP Kelas 9 | SMP Katolik Adisucipto Penfui



